BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Friday, June 5, 2009

How to Trait your Dog to Sit (with reinforcement-reward)



disini dilihat, setelah anjing berhasil duduk manis, meskipun didepannya ada orang yang lalu-lalang, maka pelatih memberikan makanan untuk anjing, sebagai REWARD. ini diberikan supaya anjing mengetahui bahwa pelatih mengkehendaki perilaku anjingnya tersebut supaya di kemudian hari, perilaku anjing ini bisa terus diulang. sehingga anjing diberikan sesuatu yang menyenangkan untuk meningkatkan frekuensi perilakunya tersebut.

Thursday, June 4, 2009

Tiga Prinsip Dasar Melatih Anjing

















1. Perintah

perintah saat latihan sebaiknya tidak berulang-ulang karena akan menyebabkan anjing menjadi lamban dalam menjalankannya. bahkan, anjing bisa saja tidak melakukan sesuatu bila diperintah. perintah berulang-ulang juga akan membuat anjing menjadi terbiasa mendengar beberapa kali perintah, tidak cukup hanya dengan sekali perintah. akibatnya, anjing akan selalu menunggu sebelum perintah kedua atau ketiga. untuk menghindarinya, pada saat perintah kedua, anjing dibantu jika belum melaksanakan perintah pertama. ucapkan kata-kata dengan baik


oleh karena itu, pelatih harus menjadi orang yang bijaksana dengan selalu memberikan pujian pada anjing jika melaksanakan perintah.
-> REINFORCEMENT POSITIF, pemberian sesuatu yang menyenangkan supaya anjing terus mengulangi perbuatan yang dikehendaki oleh pelatihnya.

pelatih jangan membiasakan memberi perintah dengan suara keras karena anjing sangat peka pendengarannya. jika dibiasakan dengan suara keras, maka anjing tidak akan bisa membedakan perintah dengan marah.


2. Pujian
Pujian diberikan jika anjing berhasil melaksanakan tugas dengan baik. pada masa pra latihan, cukup diberi bonus makanan kecil. namun, pada latihan formal, hadiah tersebut tidak boleh diberikan karena akan menurunkan daya penciumannya. anjing akan selalu berharap pelatih membawa makanan sehingga mempengaruhi prestasi kerjanya. anjing hanya mau melaksanakan perintah karena mengharapkan makanan dan bukan karena anjing ingin memuaskan pelatih.

pujian dapat diberikan dengan sentuhan berupa usapan pada kepala atau menepuk dada disertai kata pujian "bagus". ucapkan pujian dengan suara pelan dan lembut. pemberian pujian harus sepenuh hati dan perasaan. rasa senang pelatih harus keluar dari hati dan bukan hanya di bibir. anjing mempunyai perasaan dan naluri yang tajam. ia tahu kondisi pelatih merasa puas atau tidak. jika kebiasaan ini terus dilakukan, maka akan terbina komunikasi yang baik antara pelatih dan anjing sehingga muncul rasa cinta dan kasih sayang. anjing pun akan memiliki keinginan untuk selalu memuaskan pelatihnya.

cara lain dengan mengajak bermain beberapa saat untuk melepaskan rasa jenuh dan stres saat latihan. dengan mengajak bermain, dapat meningkatkan semangat anjing untuk mengikuti latihan-latihan berikutnya.

3. Peringatan dan hukuman
pelatih harus membedakan peringatan dan hukuman. peringatan diberikan bila anjing melakukan tindakan yang salah, tetapi belum tahu kalau perbuatannya adalah salah. anjing melakukannya karena tindakan itu belum pernah diajarkan oleh pelatihnya. peringatan dapat berupa kata "jangan" dengan nada peringatan.
hukuman diberikan kepada anjing jika anjing melakukan suatu kesalahan (perbuatan yang tidak dikehendaki oleh pelatihnya) yang sudah diajarkan atau diberitahukan sebelumnya. hukuman diberikan dengan mengatakan "jelek" disertai nada suara membentak atau menghukum.

bila anjing mengenakan kalung dan terikat pada tali penuntun, hukuman yang bisa diberikan adalah menarik tali dengan gerakan cepat disertai kata-kata "jelek" bernada hukuman. tarikan tali merupakan sentakan yang mengejutkan. pada saat memberi hukuman, tarikan tali penuntun harus dihentakkan. namun, jangan menarik tali terlalu keras karena dapat menyebabkan leher anjing terangkat ke atas dalam waktu lama. jika demikian, anjing akan tercekik dan dapat menyebabkan kerusakan pada saluran pernapasannya.

cara lain menghukum anjing adalah dengan menyuruh duduk atau tiarap disertai perintah dengan nada hukuman. dapat pula memegang tegkuknya lalu mengguncang-guncangkan ke kanan dan kiri beberapa saat hingga anjing seperti kehilangan keseimbangan. hukuman cara ini untuk menunjukkan kesalahan anjing sekaligus menunjukkan keperkasaan pelatih. anjing dihukum atau diberi peringatan akan mengira pelatih lebih kuat darinya dan secara naluri akan menganggapnya sebagai pemimpin.

-> hukuman merupakan pemberian sesuatu yang tidak menyenangkan supaya terjadi penurunan sampai penghilangan frekuensi perbuatan yang tidak dikehendaki. sehingga lama-lama anjing akan tahu kalau perbuatannya ini tidak disukai dan anjing akan berhenti melakukan perbuatan tersebut.
Sumber:
Hatmosrojo. R. & Budiana, N. S. (2004). Melatih Anjing Keluarga. Depok: Swadaya.

Pedoman Dasar Pelatih

Pelatih harus konsisten dalam memberikan pujian, perintah, dan hukuman. pelatih sebaiknya membiasakan anjing berlatih dalam keadaan berbeda-beda, termasuk tempat latihan, lokasi, waktu, dan lingkungan latihan. usahakan tidak melatih anjing secara berlebihan dalam waktu yang lama setiap hari. lebih baik latihan dilakukan 10 menit untuk 1 materi latihan dengan istirahat sekitar 1-2 menit. setelah itu, latihan diakhiri dengan bermain bersama.

Sumber:
Hatmosrojo. R. & Budiana, N. S. (2004). Melatih Anjing Keluarga. Depok: Swadaya.

Wednesday, June 3, 2009

Melatih Anjing untuk tidak Menerima Pakan dari Orang Asing dengan Menggunakan Shaping

anjing mati keracunan pakan yang diberikan oleh orang yang tidak dikenal. ini adalah kejadian yang kerap dialami oleh pemilik anjing, terutama untuk anjing penjaga rumah. hal ini biasanya dilakukan oleh penjahat sebelum memasuki rumah dan menguras harta benda pemilik rumah.

latihan bisa dilakukan dengan SHAPING seperti berikut:
untuk menghindari kejadian menyedihkan ini, anjing perlu dilatih dalam hal disiplin pakan. disiplin pakan meliputi jam makan yang teratur, tempat pakan yang pasti, pemberian pakan, dan cara pakan diberikan. dengan latihan-latihan yang mengarah pada disiplin pakan tersebut, anjing akan aman dari kemungkinan diracuni orang.

disiplin waktu pakan bisa dilakukan dengan mengatur pemberian pakan secara tepat waktu. sebaiknya anjing diberu pakan dua kali sehari pada jam yang sama setiap hari, misalnya pada pukul 08.00 dan pukul 18.00. tidak dianjurkan memberi pakan di luar jam tersebut. dengan demikian, anjing hanya mau makan ada jam-jam yang sudah ditentukan itu.

pakan harus diberikan di wadah yang pasti, dalam hal ini adalah wadah pakan yang sudah disiapkan di dalam kandangnya. tidak boleh memberikan pakan di luar wadah tersebut dan di luar kandang. dengan keteraturan seperti ini, anjing hanya mau mengambil pakan dari wadah pakan dan memakannya di dalam kandang.

pemberi pakan juga harus diusahakan tetap setiap hari. jika seluruh anggota keluarga ingin terlibat dalam tugas ini, mereka bisa bergantian. agar anjing jera memakan pakan dari orang lain, suatu saat harus diusahakan orang yang tidak dikenal anjing, misalnya teman tuannya yang tidak pernah berkunjung, memberikan pakan yang telah dilumuri cabai atau balsam. saat mendekati pakan dan mencicipinya, anjing akan merasa kepedasan dan sejak itu akan jera memakan pakan yang diberikan oleh orang yang tidak dikenal.

biasanya penjahat memberikan pakan beracun dengan cara melemparkannya. agar anjing tidak memakan pakan yang diberikan dengan cara seperti itu, harus juga dilakukan latihan. tali penuntun harus dikenakan, kemudian pelatih melemparkan pakan beraroma daging goreng persis di depannya. jika anjing mulai mendekati daging goreng persis di depannya. jika anjing mulai mendekati dan mengendusnya, pelatih segera mengatakan "no" atau "jangan" dengan nada melarang. jika anjing berusaha nekad, tali penuntun disentakkan dengan keras. latihan ini dilakukan 2-3 kali sehari. selanjutnya, pakan tersebut diambil dan disodorkan dengan tangan kanan atau kiri, jika anjing mengambilnya, ucapkan "good" atau "baik" dengan nada setuju. dengan demikian, untuk selanjutnya anjing hanya mau mengambil pakan yang diberikan dengan tangan terulur.


Tuesday, June 2, 2009

Behaviour Shaping

Reinforcement bisa digunakan untuk menciptakan sebuah perilaku baru. Skinner mendemonstrasikan ini dengan mengajari merpati untuk bermain bola ping-pong. Setiap kali merpati melakukan sebuah gerakan yang mendekati kemauanya, Skinner langsung
memberinya hadiah. Contohnya saat merpati maju mendekati bola, hadiah pun diberikan.Ketika prilaku ini terbentuk, hadiah ditarik karena Skinner sekarang mau merpati menyentuh bola tersebut. Sehingga hadiah baru akan diberikan oleh Skinner kepada burung merpati, jika merpati sudah menyentuh bola tersebut. Semua dibuat sampai terbentuk perilaku yang diinginkan.




Melatih Anjing untuk dapat Bersalaman dengan Menggunakan Reinforcement














Alangkah senangnya memiliki anjing yang ramah dan bisa mengulurkan kaki depannya ke seseorang sebagai ajakan untuk bersalaman. melatih anjing untuk bersalaman termasuk jenis latihan yang mudah. syarat anjing mengikuti latihan ini adalah anjing telah menguasai latihan mengenal nama dan duduk.














cara melatihnya adalah dengan memanggil namanya agar datang dan duduk di dekat pelatih. misalnya, "Mimi.. kemari.. duduk". anjing segera menghampiri pelatihnya dan duduk sambil menengadahkan kepala. setelah anjing tenang, pelatih mengucapkan kata "salam" sambil mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman. mula-mula anjing tidak bereaksi karena tidak memahami perintah baru tersebut. karenanya, pelatih disarankan mengucapkan "salam" sekali lagi sambil meraih kaki depan ajing sebelah kanan dan mengangkatnya secara perlahan dan mengucapkan "bagus" dengan memberi usapan lembut di telapak kaki depan yang digunakan bersalaman tersebut.

untuk tahap awal ini, kaki anjing cukup diletakkan di atas telapak tangan. gerakan ini diulangi beberapa kali sampai anjing mau mengangkat kakinya sendiri. jika sudah mampu, kaki anjing dipegang sambil digoyang ke atas dan ke bawah seperti manusia mengguncang-guncang telapak tangan saat bersalaman. jangan lupa terus memberi pujian dengan kata "bagus" sambil mengusap tangannya. agar anjing tidak bosan, sebaiknya latihan hanya dilakukan hingga lima kali sehari. anjing yang telah menguasai latihan ini akan segera mengangkat kaki depan sebelah kanan jika mendengar kata "salam".

REINFORCEMENT:
jika anjing berhasil melakukan salaman seperti yang diharapkan pelatihnya, maka pelatih memuji dan mengusap tangannya. untuk mempermudah latihan, pelatih bisa menerapkan cara lain yaitu dengan memberikan makanan kesukaan anjing secara bersamaan saat pelatih juga sedang mengangkat kaki anjingnya. sehingga saat anjing menggenggam tangan pelatihnya, anjing juga mendapatkan makanan yang ia sukai. anjing merasa senang karena setelah melakukan salaman tersebut, anjing menjadi mendapat makanan yang ia sukai, sehingga anjing juga menjadi dapat mengetahui bahwa perilaku bersalaman ini diharapkan oleh pelatihnya sehingga anjing bisa terus mengulangi perbuatan ini.



Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Saturday, May 30, 2009

Melatih Anjing untuk Membawa Barang dengan Menggunakan Reinfocement

latihan membawa barang memerlukan barang yang bisa digigit dan dibawa anjing, misalnya koran yang digulung menyerupai tulang atau gulungan tali. sebagai alat latihan, siapkan kertas koran dan gulungan tali yang tidak berbahaya untuk gigi anjing. cara melatihnya adalah dengan memanggil anjing agar datang mendekat. selanjutnya menyodorkan gulungan koran sambil berkata kata "gigit". mula-mula anjing diam saja karena tidak tahu maksud perintah tersebut. agar anjing mau membuka mulut, rahangnya ditekan agak kuat, sehingga mulutnya membuka dan gulungan koran diselipkan di antara gigi atas dan bawah. agar gulungan koran tetap berada di tempatnya, pelatih harus menahan dagu anjing beberapa saat.

pelatih memberikan pujian "bagus" sambil mengelus lehernya jika anjing berhasil mempertahankan posisi gulungan koran itu di antara giginya -----> REINFORCEMENT.


jika anjing terlihat akan melepaskan gigitannya, pelatih mengucapkan kata "lepas" sambil menarik gulungan koran dari mulutnya. latihan ini diulangi selama beberapa kali sampai gigitannya pada koran menjadi kuat dan mau melepaskannya saat tangan pelatih terjulur kuat mengambil gulungan koran tersebut.

jika anjing telah menguasai perintah "gigit" dan "lepas", latihan diteruskan dengan membawa barang. caranya, setelah anjing diperintah menggigit, pelatih berjalan mundur beberapa langkah di depan anjing, sehingga anjing mengukutinya. setiap anjing maju satu langkah, pelatih mengucapkan kata "tahan" dan jika anjing berhenti, pelatih segera mengucapkan kata "bagus" sambil memberinya elusan. demikian diteruskan sampai jarak tertentu.

setelah beberapa kali latihan, anjing akan menguasainya. jika anjing disuruh membawakan tas, pelatih menyodorkan tas itu ke hadapannya dan mengucapkan "gigit", kemudian melangkahkan kaki sehingga anjing mengikuti. jika ingin memintanya lagi, pelatih bisa mengulurkan tangan dan mengucapkan kata "lepas", sehingga anjing melepaskan gigitannya.

Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Latihan Memanggil Nama dengan Menggunakan Reinforcement

setiap anjing perlu memiliki nama, sehingga saat dipanggil, anjing yang datang adalah anjing yang dipanggil sesuai nama tersebut. hal ini penting, terutama jika jumlah anjing yang dimiliki cukup banyak. karenanya, setiap anjing harus mengenal namanya dengan baik. mengenalkan nama kepada anjing harus dimulai sejak dini, maksimal berumur dua bulan karena lebih dari itu latihan menjadi kurang efektif. caranya adalah anak anjing diajak berlari-lari kecil sambil bermain dan setelah terlihat lelah, pelatih mengambil jarak sekitar tiga meter. misalnya anjing akan dinamai Mimi, maka anjing tersebut dipanggil dengan nada lembut seolah-olah mengajaknya untuk bermain lagi. Mi.. mi kesini! jika anjing tidak memerhatikan, panggilan dilakukan dengan tepukan. suara tepukan biasanya menarik perhatiannya, sehingga anjing mendekat.

setelah anjing mendekat, pelatih memberikan elusan lembut, sehingga ia tahu tindakannya benar -------> REINFORCEMENT.

jika tepukan pun tidak berhasil, bisa dicoba lagi dengan cara yang lain, yakni dengan mengiming-iminginya pakan (makanan) beraroma kuat, misalnya daging goreng. caranya, pelatih mengacung-acungkan pakan tersebut sambil menyebut namanya hingga anjing itu datang menghampirinya.

setelah anjing menghampirinya, pelatih memberikan pakan tersebut, sehingga ia tahu bahwa tindakannya benar -------> REINFORCEMENT.
latihan ini sebaiknya dilakukan berulang-ulang sampai anjing hafal dengan namanya sendiri.

Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Friday, May 29, 2009

Mengontrol Gonggongan dengan Menggunakan Reinforcement dan Punishment

Menggonggong atau menyalak adalah sifat khas anjing sebagai sarana mengekspresikan perasaan seperti halnya manusia yang menjerit-jerit saat marah, menangis ketika bersedih, dan berteriak-teriak ketika hatinya gembira. meskipun gonggongan anjing adalah alamiah, tetapi jika gonggongannya ini tidak bisa dikontrol, hal ini bisa menjadi hal yang menjengkelkan. misalnya saat anda kedatangan tamu, anjing terus-menerus menggonggong, sehingga membuat suasana bising. karenanya, gonggongan anjing perlu dikontrol.

latihan mengontrol gonggongan dilakukan dengan cara memancing anjing untuk menggonggong. anjing yang telah dirantai lehernya dipanggil dan diajak duduk di ruang tamu. dengan bantuan anggota keluarga yang lain, bel dibunyikan atau pintu diketuk sambil mengucapkan salam. ketika mendengar suara bel atau ketukan pintu tersebut, pelatih pura-pura kaget dan panik. saat melihat pelatih kaget dan panik, anjing juga ikut kaget dan kemudian menggonggong.


anjing dibiarkan menggonggong selama beberapa saat. kemudian pelatih mengeluarkan perintah dengan kata "cukup", jika anjing tetap menggonggong meskipun sudah dikatakan "cukup", maka perintah "cukup" diulangi dengan nada yang lebih tinggi. jika anjing tetap bandel, rantai di lehernya ditarik, sehingga anjing sedikit tercekik dan mau tak mau akan berhenti menyalak ------> PUNISHMENT.


sebaliknya jika anjing sudah berhenti menyalak dan dapat tenang seperti sebelumnya, maka anjing diberikan pujian atau tepukan ------> REINFORCEMENT.

latihan ini diulangi selama beberapa kali, sehingga anjing bisa mengerti dan paham saat menerima perintah "cukup" saat menggonggong. dengan latihan teratur seperti ini, jika sewaktu-waktu anjing menggonggong bisa segera dihentikan dengan perintah "cukup".

Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Melatih Anjing untuk dapat Duduk Tinggal Menggunakan Reinforcement dan Punishment

duduk tinggal merupakan rangkaian latihan yang bisa diterapkan jika anjing menguasai latihan duduk. anjing yang bisa duduk tinggal menguntungkan pemiliknya. misalnya saat anjing disuruh duduk tinggal di luar toko dan pemiliknya masuk ke dalam toko untuk berbelanja. selain itu pada saat pemilik kedatangan tamu di rumahnya, anjing harus duduk tinggal di sudut ruang tamu dan tuannya berbincang-bincang dengan tamunya. anjing yang telah menguasai ini akan duduk dengan patuh selama berjam-jam tanpa beringsut sampai ada perintah berikutnya.


cara melatih anjing untuk dapat duduk tinggal adalah dengan menggunakan cara reinforcement dan punishment, berikut bagaimana reinforcement dan punishment diaplikasikan dalam pelatihan anjing di kehidupan sehari-hari:

reinforcement
jika anjing duduk manis seperti yang diharapkan, pelatih dapat melakukan gerakan mengitari anjingnya sambil berkata "tinggal". jika anjing mematuhi perintah tersebut, segera anjing diberi pujian dengan kata "bagus". jika anjing telah memahami maksud pelatihnya bahwa perintah "duduk" yang dilanjutkan dengan kata "tinggal" adalah ia tidak boleh berubah posisinya dari posisi yang semula. selanjutnya setelah anjing sudah dapat mempertahankan posisinya, secara perlahan-lahan, pelatih meninggalkannya dengan berjalan mundur selangkah sambil tetap memerhatikan dengan cermat setiap reaksinya.

punishment
sedangkan jika anjing menunjukkan tanda-tanda akan berubah posisi atau berdiri, pelatih segera mengucapkan kata "jelek", kemudian menghampiri dan mengembalikan anjing ke posisi seperti semula.

anjing dilatih ditinggal oleh pelatihnya, satu demi satu langkah dan jika anjing tetap berada di tempatnya, maka jarak antara pelatih dan anjingnya dapat ditingkatkan. demikian pula dengan waktunya. demikian seterusnya dilakukan secara teratur dan konsisten, sampai jarak pelatih dengan anjingnya cukup jauh, bahkan tidak terlihat oleh anjing dan waktunya lama. latihan berikutnya adalah di tempat ramai, misalnya di jalan atau lapangan sampai anjing bisa ditinggal di tempat keramaian selama berjam-jam.





















Sumber:

Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Melatih Anjing untuk tidak Merusak Barang Menggunakan Reinforcement dan Punishment
















kerepotan awal saat memiliki anjing, terutama anak anjing, adalah karena kegemarannya merusak barang-barang di rumah, seperti sepat, karpet, selang air, atau kaki meja dan kursi. sebenarnya hal itu adalah tindakan wajar karena saat itu gigi anak anjing baru tumbuh, sehingga terasa gatal. untuk mengurangi rasa gatal itulah, anjing kecil menggigit barang-barang yang ditemuinya.

salah satu cara melatih anjing agar tidak merusak barang-barang adalah dengan menerapkan sistem reinforcement dan punishment. berikut akan saya berikan contoh reinforcement dan punishment dalam kehidupan sehari-hari:

punishment
jika mendapati anjing menggerogoti sepatu atau kaki meja dan kursi, yang harus dilakukan pertama kali adalah dengan menegurnya dengan kata "jangan", "no", atau "jelek" menggunakan nada tinggi sambil menyeretnya ke tempat lain. dengan pengulangan 4-5 kali, biasanya anjing akan tahu bahwa perbuatannya tidak benar. jika anjing membandel, sebaiknya memberikannya sanksi nyata agar jera. misalnya jika anjing menggerogoti sepatu, segera saja mengalungkan sepatu rusak itu di leher atau tubuhnya, sehingga ia merasa risih. jika menggigit-gigit selang, segera melilitkan selang itu ke tubuhnya. sanksi seperti ini menyebabkan anjing jera melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.

reinforcement
jika anjing sudah bisa menghentikan kebiasaan jeleknya yang suka merusak barang-barang ini, anjing berhak diberikan sesuatu yang dia sukai seperti diberi makanan, belaian, elusan, mengajaknya bermain, dll. sehingga anjing mengetahui bahwa perbuatannya yang tidak merusak barang-barang ini adalah benar dan disukai oleh pemiliknya. sehingga bisa menjadu suatu kebiasaan untuk anjing supaya dapat tidak merusak barang-barang.
sebagai tindakan pencegahan yang dapat kita lakukan adalah dengan cara mengolesi benda-benda yang menjadi sasaran empuk anak anjing untuk dirusak dengan cabai, balsam gosok, minyak angin, atau sesuatu yang berasa dan berbau menyengat. anjing yang akan menggerogotinya biasanya akan mengurungkan niat setelah mencium aroma atau mencicipi rasa menyengat tersebut. selanjutnya, anak anjing tidak akan tertarik terhadap benda-benda tersebut.

karenanya, anak anjing harus dialihkan perhatiannya dengan menyediakan tulang makanan yang terbuat dari kulit sapi yang bisa dibeli di petshop, sehingga anak anjing tetap memiliki sesuatu untuk digerogoti.










Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.


Thursday, May 28, 2009

Pavlov's Dog Got Conditioned






penemuan Pavlov dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflex). ia meletakkan dasar-dasar behaviorisme, sekaligus meletakan dasar penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori tentang belajar. American Psychological Association (APA) mengakui bahwa Pavlov berpengaruh dalam psikologi modern.
eksperimen tentang refleks berkondisi yang dilakukan Pavlov adalah sebagai berikut:

ia menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. anjing itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sehingga setiap air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya, Pavlov kemudian menekan sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan. sebagai reaksi munculnya makanan, anjing mengeluarkan air liur yang dapat terlihat jelas pada alat pengukur. makanan yang keluar disebut dengan rangsangan tak berkondisi (unconditioned reflex) setiap kali anjing mengeluarkan refleks yang sama (mengeluarkan air liur) kalau melihat rangsangan yang sama pula (makanan).

percobaan selanjutnya, Pavlov membunyikan sebuah bel setiap kali ia mengeluarkan makanan. demikian anjing akan mendengar bel terlebih dahulu sebelum ia melihat makanan itu muncul. percobaan itu dilakukan secara berkali-kali dan diamati juga air liurnya. mula-mula air liurnya hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak berkondisi), tetapi lama-kelamaan air liur sudah keluar pada waktu anjing mendengar bel. keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut dengan refleks berkondisi (conditioned reflex). bunyi bel adalah rangsangan berkondisi (conditoned stimulus).

kalau latihan itu diteruskan, maka air liur anjing tetap akan keluar setelah anjing mendengar bunyi bel, walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bunyi bel itu. dengan kata lain, refleks berkondisi akan bertahan walaupun rangsang tak berkondisi sudah tidak ada lagi. pada tingkat yang lebih lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu menyala, maka lama-kelamaan air liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu walaupun ia tidak mendengar lagi atau makan sesudahnya. refleks akan tetap bertahan walaupun rangsangan tak berkondisi sudah tidak ada lagi. jika terlalu lama tidak ada rangsangan berkondisi atas refleks yang dilakukan, maka binatang percobaan itu tidak akan mendapatkan reward atas refleks yang sudah dilakukannya (extinction) atau proses penghapusan refleks.

kesimpulan: tingkah laku tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks yang terjadi karena adanya proses conditioning dimana refleks yang dihubungkan oleh rangsang tak berkondisi lama-kelamaan akan dihubungakn dengan rangsangan berkondisi.


Sumber:
Santrock, J. W. (2005). Psychology (7th edition). Boston: McGraw-Hill.

Monday, May 25, 2009

Prinsip-prinsip Dasar Latihan Anjing




















Beberapa prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam melatih anjing agar hasilnya efektif adalah sebagai berikut:


  • semakin muda semakin baik
prinsip pertama dalam melatih anjing adalah hampir sama dengan pendidikan pada manusia, yaitu semakin dini dilatih, maka akan semakin baik. anak anjing seperti buku tulis yang masih kosong, apa yang akan ditulis pada buku tersebut tergantung tuannya. anak anjing belum memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, sehingga bisa dibentuk sesuai dengan keinginan tuannya.
  • intonasi suara
intonasi atau tinggi rendah suara yang dikeluarkan pelatih dipahami berbeda oleh anjing. intonasi suara yang rendah dan lembut diartikan "Oke" oleh anjing atau dia mengartikan bahwa kita menyetujui tindakannya. sementara itu, suara tinggi dengan nada gusar bisa kita ucapkan sebagai tanda bahwa kita tidak setuju atas tindakan dan perbuatannya.
  • ganjaran atau hukuman
ada tiga hal dalam benak anjing saat menjalani latihan, yaitu pelatih, tindakan, dan ganjaran atau hukuman. anjing akan menghubungkan perintah pelatih dengan ganjaran yang akan didapat. sebaliknya, jika ia tidak menjalankan perintah pelatih, maka hukuman akan ia peroleh. hukuman ini dalam ilmu psikologi dikenal dengan punishment. punishment adalah serangkaian hal-hal yang tidak disukai. tujuan punishment diberikan adalah untuk membuat anjing mengurangi perbuatan yang tidak dikehendaki oleh pelatihnya. sehingga anjing merasa jera dan tidak mengulangi perbuatan tersebut lagi.

ganjaran bagi anjing yang mau melakukan perintah pelatih bisa dalam berbagai bentuk seperti, pujian, pakan (makanan), dan elusan. ganjaran tersebut harus segera diberikan oleh pelatih saat anjing berhasil melakukan hal yang sesuai dengan kehendak pelatih, sehingga anjing bisa tahu tindakannya adalah benar dan terus melakukan hal yang benar agar dapat diberikan ganjaran setelah melakukannya. dalam ilmu psikologi, ganjaran ini disebut dengan reinforcement negatif. reinforcement ini merupakan hal-hal yang disukai oleh anjing, yang diberikan dengan tujuan supaya anjing mau terus mengulangi perbuatan yang diharapkan (dalam hal ini, yang sesuai dengan keinginan pelatih). anak anjing berusia 3-6 bulan lebih cocok diberikan ganjaran berupa pujian dan makan. sementara itu, anjing dewasa lebih terespon oleh elusan.

pujian yang diberikan kepada anjing saat melakukan perintah pelatih bisa berupa kata-kata "good", "bagus", atau "pintar kamu". pujian ini semakin efektif jika digabungkan dengan elusan, tepukan, pijitan halus, hingga garukan-garukan kecil pada tubuhnya.

elusan akan semakin efektif jika dilakukan di bagian-bagian tubuh yang sensitif, seperti dada, kepala, tengkuk, punggung, bagian bawah mulut dekat kerongkongan, atau moncong atas. jika bagian-bagian tersebut dielus-elus, anjing akan menikmati sensasi keakraban dan kedekatan hubungan dengan pelatihnya. terlebih jika pelatih melakukannya sambil berjongkok dan wajahnya dekat dengan kepala anjing. tindakan gabungan yang menyenangkan anjing ini akan membuatnya bergairah dalam melakukan program latihan.

elusan di tempat yang kurang disertai dengan sikap yang kurang bersahabat tidak akan efektif. misalnya mengelus bagian pantat atau kaki, karena keduanya bukan bagian tubuh yang sensitif, apalagi jika dilakukan sambil berdiri. sikap tersebut dipahami anjing sebagai sikap congkak dan sombong karena perasaan anjing sangat peka. anjing tahu elusan yang tulus dan yang dibuat-buat. karenanya, pujian dan elusan harus diberikan pelatih dengan tulus. waktu elusan tidak perlu lama-lama, cukup sekitar 20 detik, tetapi sering.

sementara itu, hukuman bagi anjing dipahami jika ia melakukan kesalahan atau tidak melakukan keinginan pelatih. hukuman bervariasi dari yang ringan, seperti mengatakan "no" atau tidak dengan nada tinggi dan menatapnya dengan tajam, tamparan handuk kecil atau dengan tangan, hingga mengisolasikan untuk sementara waktu di dalam kamar mandi atau kamar sempit yang tertutup.

tidak boleh sekali-kali menghukum anjing dengan membentak atau memukulnya dengan benda keras karena hanya akan membuatnya ketakutan. anjing yang sering menerima perlakuan seperti itu akan menjadi anjing penakut dan tidak percaya diri. di samping itu, anjing yang sering menerima hukuman berupa pukulan justru akan menjadi anjing yang galak. akibatnya, alih-alih menjadi sahabat, si anjing justru menjadi hewan peliharaan yang menyebalkan di rumah.
  • waktu latihan
harus selalu diingatkan bahwa anjing adalah binatang yang memiliki daya konsentrasi terbatas, sehingga waktu yang efektif untuk latihan juga sangat terbatas. tidak seperti manusia yang bisa di-drill untuk melakukan sesuatu dalam jangka waktu yang lama. anak anjing bahkan hanya bisa berkonsentrasi latihan sekitar 30 menit. untuk menghindari kesalahan, usai latihan, anjing diajak bermain-main sebelum sesi selanjutnya dilakukan.
  • konsistensi
pelatih harus konsisten dengan apa yang telah diajarkan kepada anjing. inkonsistensi akan menyebabkan anjing merasa bingung. misalnya jika gerakan tertentu dilakukan untuk memuji, pada kesempatan lain gerakan tersebut jangan dilakukan untuk menghukum.
  • rutin
kegiatan latihan pada anjing harus rutin. harus diusahakan latihan setiap hari pada jam-jam tertentu. misalnya pada pagi hari pukul 08.00-10.00 dan diteruskan sore harinya pada pukul 15.00-17.00.
  • sabar
hal terakhir yang harus diterapkan dalam melatih anjing adalah kesabaran. hal ini disebabkan bagaimanapun anjing adalah binatang dengan segala keterbatasannya, terutama keterbatasan dalam menerima dan memahami perintah. kesabaran sangat penting, terlebih lagi jika anjing sudah mulai jenuh dengan perintah dan mogok melakukan perintah tersebut. sama halnya dengan manusia, anjing juga memiliki rasa bosan sehingga ketika kebosanan datang, anjing perlu diajak bermain-main agar kembali bergairah.



















Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Sunday, May 24, 2009

Tertib Melatih Anjing Buang Kotoran Memakai Reinforecement dan Punishment

melatih anjing buang kotoran secara tertib tidaklah sulit, modalnya hanya kesabaran dan rutinitas.

kita dapat melatih anjing supaya dapat BAB di tempat yang benar.salah satu cara yang bisa dipakai adalah dengan menggunakan reinforcement dan punishment. cara tersebut adalah cara yang biasa dipakai kebanyakan orang. anjing akan belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dialaminya
berikut akan saya beri contoh aplikasi sehari-hari menggunakan cara reinforcement dan punishment:
reinforcement
jika anjing sudah BAB di tempat yang sesuai dengan pemiliknya kehendaki, maka anjing diberi pujian, diberi makanan, diberi belaian, dan hal-hal lain yang ia sukai. sehingga lama-kelamaan ini akan menjadi kebiasaan untuk anjing agar membuang kotorannya di tempat yang memang dikehendaki oleh pemiliknya.

punishment
jika anjing BAB di sembarang tempat, maka pemiliknya segera menangkap dan memegang anjingnya, kemudian menunjuk kotoran tersebut dan berkata "no" atau "tidak" dengan nada keras sambil menatap tajam matanya.teguran terus-menerus seperti ini lama-kelamaan membuat anjing menyadari bahwa perbuatannya adalah tidak benar. dengan sepengetahuan anjing, kotoran sebaiknya diambil dan dibuang oleh pemiliknya ke tempat yang dikehendaki.

cara lain adalah dengan mengamati kebiasaan anjing dalam buang kotoran. umumnya, anjing akan buang kotoran setelah selesai makan. karenanya, begitu anjing selesai makan, sebaiknya anjing diajak keluar sampai menunjukkan tanda-tanda akan buang kotoran. setelah tanda-tanda itu muncul, anjing dituntun ke tempat tertentu, misalnya di bawah pohon atau rerumputan dan dibiarkan buang kotoran disana. latihan ini sebaiknya dilakukan secara rutin. dengan rutinitas seperti ini, anjing akan menunggu diajak jalan-jalan oleh tuannya untuk buang kotoran.

jika reinforcement dan punishment ini terus diulang, maka lama-kelamaan, anjing akan mengerti bahwa ia tidak boleh BAB lagi di sembarang tempat pada akhirnya, ia dapat BAB di tempat yang benar. hal ini dapat terjadi karena anjing merasa senang saat diberi penghargaan setelah berhasil BAB di tempat yang benar, sehingga anjing ingin hal ini dapat terulang secara terus-menerus dan juga karena anjing tidak mau lagi mendapat hukuman karena telah BAB di sembarang tempat, sehingga ia tidak lagi BAB di sembarang tempat.

Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Saturday, May 23, 2009

Dog Training - Positive Reinforcement Dog Training



di video ini, dapat dilihat ketika pemilik anjing meminta anjingnya untuk duduk, anjingnya menurut dan langsung duduk. lalu ketika pemilik anjing bersin, anjingnya langsung mengambilkan tissue. tentunya ini tidak terjadi secara spontan. dalam hal ini, pemilik anjing mengaku melatih anjingnya dengan menggunakan postive reinforcement juga.

menurut analisis saya, sebelum anjing mejadi sepatuh seperti yang tadi ditampilkan dalam video, pemilik melatihnya dengan memberikan makanan, pujian, atau belaian, setiap anjing berhasil melakukan apa yang dia perintahkan. hal-hal tersebut adalah hal-hal yang disukai anjing. sehingga anjing menginginkan hal-hal tersebut terus terulang dan terjadi pada dirinya. nah, supaya bisa terulang, maka anjing harus melakukan apa yang diperintahkan oleh pemilik kepadanya. proses ini dilakukan perlahan-lahan dan secara terus menerus, sehingga lama-lama anjing bisa patuh seperti contoh di atas.

Cats in Puzzle Box



behavior changes because of its consequences. he called it law of effect.

Operant Conditioning

dalam teori operant conditioning, arsitek utamanya adalah B.F. Skinner dan pandangan teori ini didasarkan pada pandangan E.L. Thorndike.



B.F Skinner E.L Thorndike

selain ada classical conditioning, terdapat juga operant conditioning, yaitu: pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
dimana bisa diterapkan melalui prinsip hukum efek Thorndike, yaitu: prinsip bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil yang positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah.
menurut Thorndike, stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera dan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.




















hukum efek bisa juga dicontohkan dalam prinsip learning by doing. misalnya dalam contoh eksperimennya pada cats in puzzle boxes. Thorndike menempatkan kucing yang lapar dalam sebuah kotak dan meletakkan ikan di luar kotak. untuk bisa keluar dari kotak, kucing itu harus mencari palang di dalam kotak tersebut. pertama-tama, kucing itu melakukan beberap respons yang tidak efektif. dia mencakar atau menggigit-gigit palang pintu. akhirnya, kucing itu secara tidak sengaja, menginjak pijakan yang membuka palang pintu. saat kucing itu dikembalikan ke kotak, dia melakukan aktifitas acak sampai dia menginjak pikakan itu sekali lagi. pada percobaan berikutnya, dia kucing itu semakin sedikit melakukan gerakan acak, sampai dia akhirnya bisa langsung menginjak pijakan itu untuk membuka pintu.
setelah melihat penjelasan dari E.L. Thorndike, berikut akan dijelaskan teori operant conditioning menurut B.F. Skinner, yaitu: perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respon. didalamnya terdapat unsur reinforcement dan punishment, seperti berikut:
- reinforcement. konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku
akan terjadi. reinforcement terdiri dari:
(i) reinforcement positif: pemberian stimulus yang menyenangkan untuk meningkatkan frekuensi respons.
(ii) reinforcement negatif: penarikan stimulus yang tidak menyenangkan untuk meningkatkan frekuensi respons.

- punishments. konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Sumber:
Santrock. (2008). Psikologi pendidikan (ed ke-2). Jakarta: Kencana.





Rover the dog as Classical Conditioning's Model



Classical Conditioning - Very basic concepts. Created by the Learning Innovations & Academic Development Department at George Brown College.

Classical Conditioning

adalah: pembelajaran asosiatif dimana stimulus netral menjadi diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kemampuan untuk mengeluarkan respons yang serupa.


dalam teori classical conditioning, terdapat dua tipe stimuli dan dua tipe respons, yaitu:

  • unconditioned stimulus (UCS). stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. makanan adalah UCS.
  • unconditioned response (UCR). respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. air liur yang merespon makanan adalah UCR.
  • conditioned stimulus (CS). stimulus yang sebelumya netral yang akhirnya menghasilkan CR setelah diasosiasikan dengan US.
  • conditioned response (CR). respon yang dipelajari, yaitu respons terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS.
















BEFORE CONDITIONING
disediakan stimulus netral yaitu bel dan anjing tidak mengeluarkan air liur.

DURING CONDITIONING
stimulus netral tersebut (bel) menjadi CS karena dipasangkan dengan makanan (UCS), sehingga anjing mengeluarkan air liur jika dibunyikan bel.

AFTER CONDITIONING
kemudian, CS (bel) itu sendiri, bisa membuat anjing mengeluarkan air liur. jadi, setiap bel dibunyikan, anjing selalu mengeluarkan air liur karena mengira akan ada makanan.

** eksperimen ini dilakukan oleh Ivan Pavlov yang menyusun konsep classical conditioning.






Sumber:
Santrock. (2008). Psikologi pendidikan (ed ke-2). Jakarta: Kencana.