BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Friday, May 29, 2009

Mengontrol Gonggongan dengan Menggunakan Reinforcement dan Punishment

Menggonggong atau menyalak adalah sifat khas anjing sebagai sarana mengekspresikan perasaan seperti halnya manusia yang menjerit-jerit saat marah, menangis ketika bersedih, dan berteriak-teriak ketika hatinya gembira. meskipun gonggongan anjing adalah alamiah, tetapi jika gonggongannya ini tidak bisa dikontrol, hal ini bisa menjadi hal yang menjengkelkan. misalnya saat anda kedatangan tamu, anjing terus-menerus menggonggong, sehingga membuat suasana bising. karenanya, gonggongan anjing perlu dikontrol.

latihan mengontrol gonggongan dilakukan dengan cara memancing anjing untuk menggonggong. anjing yang telah dirantai lehernya dipanggil dan diajak duduk di ruang tamu. dengan bantuan anggota keluarga yang lain, bel dibunyikan atau pintu diketuk sambil mengucapkan salam. ketika mendengar suara bel atau ketukan pintu tersebut, pelatih pura-pura kaget dan panik. saat melihat pelatih kaget dan panik, anjing juga ikut kaget dan kemudian menggonggong.


anjing dibiarkan menggonggong selama beberapa saat. kemudian pelatih mengeluarkan perintah dengan kata "cukup", jika anjing tetap menggonggong meskipun sudah dikatakan "cukup", maka perintah "cukup" diulangi dengan nada yang lebih tinggi. jika anjing tetap bandel, rantai di lehernya ditarik, sehingga anjing sedikit tercekik dan mau tak mau akan berhenti menyalak ------> PUNISHMENT.


sebaliknya jika anjing sudah berhenti menyalak dan dapat tenang seperti sebelumnya, maka anjing diberikan pujian atau tepukan ------> REINFORCEMENT.

latihan ini diulangi selama beberapa kali, sehingga anjing bisa mengerti dan paham saat menerima perintah "cukup" saat menggonggong. dengan latihan teratur seperti ini, jika sewaktu-waktu anjing menggonggong bisa segera dihentikan dengan perintah "cukup".

Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Melatih Anjing untuk dapat Duduk Tinggal Menggunakan Reinforcement dan Punishment

duduk tinggal merupakan rangkaian latihan yang bisa diterapkan jika anjing menguasai latihan duduk. anjing yang bisa duduk tinggal menguntungkan pemiliknya. misalnya saat anjing disuruh duduk tinggal di luar toko dan pemiliknya masuk ke dalam toko untuk berbelanja. selain itu pada saat pemilik kedatangan tamu di rumahnya, anjing harus duduk tinggal di sudut ruang tamu dan tuannya berbincang-bincang dengan tamunya. anjing yang telah menguasai ini akan duduk dengan patuh selama berjam-jam tanpa beringsut sampai ada perintah berikutnya.


cara melatih anjing untuk dapat duduk tinggal adalah dengan menggunakan cara reinforcement dan punishment, berikut bagaimana reinforcement dan punishment diaplikasikan dalam pelatihan anjing di kehidupan sehari-hari:

reinforcement
jika anjing duduk manis seperti yang diharapkan, pelatih dapat melakukan gerakan mengitari anjingnya sambil berkata "tinggal". jika anjing mematuhi perintah tersebut, segera anjing diberi pujian dengan kata "bagus". jika anjing telah memahami maksud pelatihnya bahwa perintah "duduk" yang dilanjutkan dengan kata "tinggal" adalah ia tidak boleh berubah posisinya dari posisi yang semula. selanjutnya setelah anjing sudah dapat mempertahankan posisinya, secara perlahan-lahan, pelatih meninggalkannya dengan berjalan mundur selangkah sambil tetap memerhatikan dengan cermat setiap reaksinya.

punishment
sedangkan jika anjing menunjukkan tanda-tanda akan berubah posisi atau berdiri, pelatih segera mengucapkan kata "jelek", kemudian menghampiri dan mengembalikan anjing ke posisi seperti semula.

anjing dilatih ditinggal oleh pelatihnya, satu demi satu langkah dan jika anjing tetap berada di tempatnya, maka jarak antara pelatih dan anjingnya dapat ditingkatkan. demikian pula dengan waktunya. demikian seterusnya dilakukan secara teratur dan konsisten, sampai jarak pelatih dengan anjingnya cukup jauh, bahkan tidak terlihat oleh anjing dan waktunya lama. latihan berikutnya adalah di tempat ramai, misalnya di jalan atau lapangan sampai anjing bisa ditinggal di tempat keramaian selama berjam-jam.





















Sumber:

Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Melatih Anjing untuk tidak Merusak Barang Menggunakan Reinforcement dan Punishment
















kerepotan awal saat memiliki anjing, terutama anak anjing, adalah karena kegemarannya merusak barang-barang di rumah, seperti sepat, karpet, selang air, atau kaki meja dan kursi. sebenarnya hal itu adalah tindakan wajar karena saat itu gigi anak anjing baru tumbuh, sehingga terasa gatal. untuk mengurangi rasa gatal itulah, anjing kecil menggigit barang-barang yang ditemuinya.

salah satu cara melatih anjing agar tidak merusak barang-barang adalah dengan menerapkan sistem reinforcement dan punishment. berikut akan saya berikan contoh reinforcement dan punishment dalam kehidupan sehari-hari:

punishment
jika mendapati anjing menggerogoti sepatu atau kaki meja dan kursi, yang harus dilakukan pertama kali adalah dengan menegurnya dengan kata "jangan", "no", atau "jelek" menggunakan nada tinggi sambil menyeretnya ke tempat lain. dengan pengulangan 4-5 kali, biasanya anjing akan tahu bahwa perbuatannya tidak benar. jika anjing membandel, sebaiknya memberikannya sanksi nyata agar jera. misalnya jika anjing menggerogoti sepatu, segera saja mengalungkan sepatu rusak itu di leher atau tubuhnya, sehingga ia merasa risih. jika menggigit-gigit selang, segera melilitkan selang itu ke tubuhnya. sanksi seperti ini menyebabkan anjing jera melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.

reinforcement
jika anjing sudah bisa menghentikan kebiasaan jeleknya yang suka merusak barang-barang ini, anjing berhak diberikan sesuatu yang dia sukai seperti diberi makanan, belaian, elusan, mengajaknya bermain, dll. sehingga anjing mengetahui bahwa perbuatannya yang tidak merusak barang-barang ini adalah benar dan disukai oleh pemiliknya. sehingga bisa menjadu suatu kebiasaan untuk anjing supaya dapat tidak merusak barang-barang.
sebagai tindakan pencegahan yang dapat kita lakukan adalah dengan cara mengolesi benda-benda yang menjadi sasaran empuk anak anjing untuk dirusak dengan cabai, balsam gosok, minyak angin, atau sesuatu yang berasa dan berbau menyengat. anjing yang akan menggerogotinya biasanya akan mengurungkan niat setelah mencium aroma atau mencicipi rasa menyengat tersebut. selanjutnya, anak anjing tidak akan tertarik terhadap benda-benda tersebut.

karenanya, anak anjing harus dialihkan perhatiannya dengan menyediakan tulang makanan yang terbuat dari kulit sapi yang bisa dibeli di petshop, sehingga anak anjing tetap memiliki sesuatu untuk digerogoti.










Sumber:
Prajanto & Andoko, A. (2006). Membuat anjing sehat dan pintar. Tangerang: Agromedia Pustaka.