BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Saturday, May 23, 2009

Dog Training - Positive Reinforcement Dog Training



di video ini, dapat dilihat ketika pemilik anjing meminta anjingnya untuk duduk, anjingnya menurut dan langsung duduk. lalu ketika pemilik anjing bersin, anjingnya langsung mengambilkan tissue. tentunya ini tidak terjadi secara spontan. dalam hal ini, pemilik anjing mengaku melatih anjingnya dengan menggunakan postive reinforcement juga.

menurut analisis saya, sebelum anjing mejadi sepatuh seperti yang tadi ditampilkan dalam video, pemilik melatihnya dengan memberikan makanan, pujian, atau belaian, setiap anjing berhasil melakukan apa yang dia perintahkan. hal-hal tersebut adalah hal-hal yang disukai anjing. sehingga anjing menginginkan hal-hal tersebut terus terulang dan terjadi pada dirinya. nah, supaya bisa terulang, maka anjing harus melakukan apa yang diperintahkan oleh pemilik kepadanya. proses ini dilakukan perlahan-lahan dan secara terus menerus, sehingga lama-lama anjing bisa patuh seperti contoh di atas.

Cats in Puzzle Box



behavior changes because of its consequences. he called it law of effect.

Operant Conditioning

dalam teori operant conditioning, arsitek utamanya adalah B.F. Skinner dan pandangan teori ini didasarkan pada pandangan E.L. Thorndike.



B.F Skinner E.L Thorndike

selain ada classical conditioning, terdapat juga operant conditioning, yaitu: pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
dimana bisa diterapkan melalui prinsip hukum efek Thorndike, yaitu: prinsip bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil yang positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah.
menurut Thorndike, stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera dan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.




















hukum efek bisa juga dicontohkan dalam prinsip learning by doing. misalnya dalam contoh eksperimennya pada cats in puzzle boxes. Thorndike menempatkan kucing yang lapar dalam sebuah kotak dan meletakkan ikan di luar kotak. untuk bisa keluar dari kotak, kucing itu harus mencari palang di dalam kotak tersebut. pertama-tama, kucing itu melakukan beberap respons yang tidak efektif. dia mencakar atau menggigit-gigit palang pintu. akhirnya, kucing itu secara tidak sengaja, menginjak pijakan yang membuka palang pintu. saat kucing itu dikembalikan ke kotak, dia melakukan aktifitas acak sampai dia menginjak pikakan itu sekali lagi. pada percobaan berikutnya, dia kucing itu semakin sedikit melakukan gerakan acak, sampai dia akhirnya bisa langsung menginjak pijakan itu untuk membuka pintu.
setelah melihat penjelasan dari E.L. Thorndike, berikut akan dijelaskan teori operant conditioning menurut B.F. Skinner, yaitu: perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respon. didalamnya terdapat unsur reinforcement dan punishment, seperti berikut:
- reinforcement. konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku
akan terjadi. reinforcement terdiri dari:
(i) reinforcement positif: pemberian stimulus yang menyenangkan untuk meningkatkan frekuensi respons.
(ii) reinforcement negatif: penarikan stimulus yang tidak menyenangkan untuk meningkatkan frekuensi respons.

- punishments. konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Sumber:
Santrock. (2008). Psikologi pendidikan (ed ke-2). Jakarta: Kencana.





Rover the dog as Classical Conditioning's Model



Classical Conditioning - Very basic concepts. Created by the Learning Innovations & Academic Development Department at George Brown College.

Classical Conditioning

adalah: pembelajaran asosiatif dimana stimulus netral menjadi diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kemampuan untuk mengeluarkan respons yang serupa.


dalam teori classical conditioning, terdapat dua tipe stimuli dan dua tipe respons, yaitu:

  • unconditioned stimulus (UCS). stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. makanan adalah UCS.
  • unconditioned response (UCR). respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. air liur yang merespon makanan adalah UCR.
  • conditioned stimulus (CS). stimulus yang sebelumya netral yang akhirnya menghasilkan CR setelah diasosiasikan dengan US.
  • conditioned response (CR). respon yang dipelajari, yaitu respons terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS.
















BEFORE CONDITIONING
disediakan stimulus netral yaitu bel dan anjing tidak mengeluarkan air liur.

DURING CONDITIONING
stimulus netral tersebut (bel) menjadi CS karena dipasangkan dengan makanan (UCS), sehingga anjing mengeluarkan air liur jika dibunyikan bel.

AFTER CONDITIONING
kemudian, CS (bel) itu sendiri, bisa membuat anjing mengeluarkan air liur. jadi, setiap bel dibunyikan, anjing selalu mengeluarkan air liur karena mengira akan ada makanan.

** eksperimen ini dilakukan oleh Ivan Pavlov yang menyusun konsep classical conditioning.






Sumber:
Santrock. (2008). Psikologi pendidikan (ed ke-2). Jakarta: Kencana.